Jumat, 14 Februari 2014

Pengabdian..
Tak pernah akan aku sangka , tepat ditahun ke-5 ini, aku masih berada disini, dipondok ini.
Mengulas titik balik perjalanan, selama 4 tahun terakhir, menjadi seorang santriwati yang haus akan pelajaran ilmu-ilmu agama, serta mencari jati diri yang sebenarnya, tidak tanggung-tangung jarak sepanjang 85 KM pun aku lalui demi  mencari ilmu dan bonus-bonus lain didalam perjalanan ini.
Mengabdi..
Suatu kalimat yang biasa diucapkan, namun tidak mudah dalam mengaplikasikannya.
Mengabdi,
Belajar menjaga amanah yang sudah sangat dipercayakan kepada diri masing-masing, dan menjaga konsekuensi yang ada.
Disini, dipondok ini, sebagian pelajaran hidup sudah aku dapatkan, bersama teman-teman, bersama anak  murid, bersama para penghuni dipondok ini.
Mengabdi berarti mengabdikan diri untuk menjalankan amanah yang telah diberi oleh asaatidz, mendapat gelar panggilan seorang ustadzah atau ustadz bukanlah suatu hal yang mudah, panggilan seperti itu menjadi kebanggan tersendiri apabila tugas yang dijalankan benar-benar dilaksanakan dan dinikmati.
Sungguh kebahagiaan tak terkira ketika seorang anak kelas 1 memanggil aku “Ustadzah Ulfah”, waaah ingin rasanya melompatkan diri dari lantai 3 gedung hasanah, seperti ada hal lain yang terasa di bagian organ tubuh ini.
Mengabdi,
Keadaan bisa berubah seketika ketika rasa jenuh mulai menyergap, saat tiba-tiba hati dan fikiran berhenti menikmati keadaan yang monoton seperti ini.
Tapi, aku tak boleh seperti itu, mengabdi itu mencintai semua hal yang ada didalam pondok pesantren ini, mencintai semua komponen yang berada dipondok ini.
4 bulan lagi,aku dan teman-teman mengabdi, entah hasil apa yang telah didapat.
Aku harap raport pengabdian yang tak tertulis ini,dapat dinilai diterima baik oleh semua pihak, dan yang menilainya semua orang yang pernah menjadi bagian dalam perjalanan pengabdian ini. 

Pribadi Mengabdi





Memang terkesan sedikit aneh dan asing, menjadi pribadi yang mengabdi kepada negeri tercinta ini, serasa tidak mungkin rasanya,seperti hal yang sangat berat.
Mengabdi kepada negeri mungkin terlalu luas cakupannnya. Tapi, kalau memulai dari diri sendiri,mengabdi pada negeri bukanlah suatu hal yang rumit dan berat.
Mengabdi kepada tempat kelahiran  misalnya, menjadi tokoh masyarakat yang dapat membantu sesama masyarakat dilingkungannya. Menjadi penolong disekitarnya.
Mengabdi kepada lingkungan rumah sakit, kepada anak-anak yang membutuhkan perhatian lebih, kepada anak-anak dijalanan. Mengabdi kepada sekolah yang pernah memberikan segenap pengalaman yang tak terkira banyaknya.
Memang tidak semudah dibicarakan, tapi apabila kita memulai mengabdi kepada hal-hal yang ada didekat kita, dan akrab disekitar kita, pasti sesuatu hal yang dijalani benar-benar menjadi sebuah hal yang menyenangkan. Dari situlah tanpa disadari sebenarnya kita sudah belajar menjadi pribadi yang mengabdi kepada negeri.
Karena mengabdi di rumah sakit, mengabdi kepada anak-anak dijalanan, disekolah, dilingkungan tempat tinggal, itu semua merupakan komponen-komponen dasar yang berada di negeri ini. Maka, apabila kegiatan mengabdi itu benar-benar terjalani dengan baik, negeri ini tak perlu kerepotan mencari orang-orang yang benar –benar bekerja dengan baik dan mencintai pekerjaannya itu.
Lambat laun-pun, negeri ini akan berpenghuni oleh orang-orang yang mencintai pekerjaannya dengan baik, melakukan pekerjaannya dengan baik pula,karena menjadi pribadi mengabdi, berarti turut serta melakukan pembangunan untuk memperbaiki negeri ini.
Pribadi mengabdi kepada negeri ,tak usah langsung berfikir harus menjadi presiden, menteri atau pejabat-pejabat dengan kadar kekuasaan yang tinggi. Tetapi, menjadi pribadi yang mengabdi cukuplah diawali dari tempat kita dilahirkan, menjadi pribadi yang berpengaruh bagi orang sekitar,maka tanpa disadaripun ,kita sebenarnya sedang mengabdi kepada Negeri Indonesia tercinta ini.